ULAMA PENYIAR ISLAM DI ACEH PADA (Abad 16-17M)

Sumber-sumber sejarah tentang kegitan islamisasi di Nusantara ini sangat sedikit, dan secara keseluruhan catatan-catatan sejarah tentang pengislaman di dalam literatur dan tradisi melayu masih simpang siur dan beragam keterangannya. Oleh karena itu, banyak hal-hal yang sukar terpecahkan sehingga sejarah di Nusantara banyak yang bersifat perkiraan. Mencari ketepatan kapan masuknya Islam ke Nusantara sangat sulit. Menentukan masuknya Islam di Nusantara biasanya dikaitkan dengan kegiatan perdagangan antara dunia Arab dengan Asia Timur. Banyak yang memperkirakan bahwa kontak antara Nusantara dengan Islam terjadi sejak abad ke- 7 Masehi. Dalam seminar Sejarah Masuknya Islam yang berlangsung di Medan tahun 1963 yang dikukuhkan lagi dengan seminar Sejarah Islam di Banda Aceh tahun 1978 menyimpulkan bahwa masuknya Islam ke Nusantara abad ke-1 Hijriyah langsung dari tanah Arab. Di samping itu ada juga yang berpendapat bahwa Islam masuk pada abad ke- 13 Masehi.
Ada satu persoalan lain yang menjadi perdebatan dan sulit dipastikan adalah persoalan dimana Islam pertama sekali masuk. Ada yang mengatakan di Jaya, dan ada yang mengatakan di Barus, namun demikian ahli sejarah sependapat bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui pesisir Sumatera Utara, yaitu melalui Samudera Pasai (Aceh).
Sebagaimana yang terjadi di daerah-daerah lain di Asia Tenggara, Islam tersebar di Nusantara melalui tiga metode, yaitu pengislaman oleh pedagang Muslim melalui jalur perdagangan yang damai, oleh para da’i yang datang ke Indonesia, dan dengan melalui kekuasaan. Pengislaman yang dilakukan oleh para pedagang terjadi sejak kontak paling awal antara Islam dengan daerah-daerah pesisir pantai Sumatera Utara. Pantai Sumatera Utara merupakan pesinggahan saudagar-saudagar Muslim yang menuju ke asia Timur melalui Selat Malaka. Mereka yang singgah di pesisir Sumatera Utara membentuk masyarakat muslim. Tidak tertutup kemungkinan di antara mereka menjalin hubungan perkawinan dengan penduduk pribumi atau menyebarkan Islam sambil berdagang, sehingga lama kelamaan penduduk setempat memeluk Islam.
Kegiatan pengislaman berikutnya dilakukan oleh ulama-ulama yang turut dalam kapal-kapal dagang. Mereka mempunyai tujuan khusus untuk menyebarkan Islam. Tome Pires, yang pernah mengunjungi Pasai, menceritakan dalam bukunya Suma Oriental bahwa banyak orang Moor tersebut, (istilah dalam bahasa Portugis untuk menyebut orang-orang yang terusir dari bumi Spanyol) dan di Filipina orang-orang Islam disebut bangsa Moro, yang menebar islam dan muncullah (ulama) yang berusaha keras dan mendorong Raja Pasai (Meurah Silu) masuk Islam. Pernyataan masuk Islam seorang raja mempunyai nilai tersendiri bagi proses islamisasi. Tidak lama setelah itu, keislamannya akan diikuti oleh rakyat, dan berikutnya dilakukan penyebaran Islam melalui pemakluman perang terhadap kerajaan-kerajaan yang kafir.
Menurut A. Hasyimy, kerajaan Islam pertama di Sumatera Utara adalah Kerajaan Perlak yang muncul pada abad ke-9 Masehi. Kerajaan Perlak mempunyai pengaruh keislaman bagi daerah-daerah di sekitarnya. Banyak ulama Perlak yang berhasil menyebarkan Islam ke luar Perlak, misalnya sekelompok Da’i Perlak dapat mengislamkan raja Benua. Para ulama Perlak, tokoh-tokoh, pemimpin, dan keluarga raja Perlak banyak yang pindah ke lingga setelah penyerangan Sriwijaya, sehingga mereka membentuk masyarakat Muslim di sana dan dengan demikian maka berdirilah kerajaan Islam Lingga. Selain Perlak kerajaan Islam yang terpenting di Sumatera Utara adalah Samudera . Sumber-sumber Cina menyebutkan bahwa pada tahun 1282 kerajaan kecil Samudera telah mengirim duta-duta dengan nama muslim.
Samudera merupakan daerah kecil yang terletak di muara Sungai Peusangan dan mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Selain itu Samudera menjadi pusat pengembangan pengetahuan agama, dimana teolog-teolog, ahli ilmu kalam, yang datang dari Arab dan Persia, sering melakukan diskusi tentang teologi dan mengkaji kajian Islam di istana sultan. Reputasi Samudera kemudian beralih ke Pasai dan menjadi pusat keilmuan. Upaya islamisasi terus digiatkan sehingga Pasai memiliki pengaruh keislaman yang kuat dan menjadi pusat tamaddun Islam di saat itu. Kerajaan Pasai mengalami kemunduran diakhir tahun 1521 dimana terjadi penyerangan oleh Portugis. Sultan Ali Mughayatsyah sebagai sultan Kerajaan Darussalam pada masa itu membantu Pasai menggempur Portugis dan merampas wilayah Pasai.Kemudian mempersatukan dengan kerajaan Darussalam sehingga memproklamirkan menjadi Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1524.
Pasca leburnya Samudera Pasai ke dalam Kerajaan Aceh Darussalam membuat Aceh tampil sebagai kekuatan yang menyeluruh dan terpadu baik di bidang politik, maupun ekonomi, bahkan di bidang pemikiran islam mulai abad 16 sampai abad 18 dan puncak kejayaannya berlangsung pada abad ke- 17. Kejayaan dan kemajuan yang dicapai oleh Aceh menyebabkan berdatangan ulama-ulama dari Arab, Persia atau India menjalin hubungan demi pengembangan keilmuan di Aceh. Di Aceh telah lahir ulama-ulama besar yang membaktikan diri mereka dalam renungan dakwatul islam sehingga lahirlah khazanah keilmuan dan wacana intelektual keagamaan. Semua itu membuat Aceh patut diperhitungkan dalam “peta pemikiran Islam di Nusantara.
 Mekar dan maraknya pemikiran keagamaan menjadikan Aceh pusat keilmuan Islam di Nusantara, sehingga banyak orang Islam dari berbagai daerah di Nusantara datang ke Aceh untuk belajar kepada ulama-ulama besar Aceh. Murid-murid yang belajar ke Aceh nantinya kembali ke daerah masing-masing, untuk menyebarkan Islam, ilmu bahkan tarekat.. Mereka merupakan anak panah penyebaran Islam dan tradisi keilmuan yang berkembang di Aceh. Selain itu kedudukan Aceh sebagai persinggahan jamaah haji Indonesia telah menjadikan Aceh posisi istimewa bagi penyebaran dan perkembangan ilmu pengetahuan dan pengajaran agama Islam. Kehadiran jemaah haji di Aceh sambil menunggu pemberangkatan ke Haramain sering dimanfaatkan untuk belajar ilmu keagamaan.
II. Kiprah ulama-ulama Aceh dan karyanya
Untuk melihat pengaruh Aceh dalam keagamaan dan keilmuan di Aceh, Berikut ini akan dijelaskan secara singkat figur ulama-ulama Penyebar Islam di Aceh dan buah karyanya serta peran mereka dalam pengembangan keilmuan di Nusantara.
1. Hamzah Fansuri
Hamzah Fansuri adalah seorang ulama dan sufi besar pertama di Aceh. Beliau adalah penulis produktif yang menghasilkan karya risalah keagamaan dan juga prosa yang sarat dengan ide-ide mistis. Selain itu aktif menulis karya-karya tentang tasawuf pada paruh ke dua abad ke- 16. dan menguasai bahasa Arab, bahasa Parsi, disamping juga menguasai bahasa Urdu. Paham tasawuf yang dibawanya adalah Wujudiyah. Kepopuleran nama Hamzah Fansuri tidak diragukan lagi, banyak pakar telah mengkaji keberadaan Hamzah yang sangat popular lewat karya-karyanya yang monumental. Namun mengenai dimana dan kapan persisnya Hamzah lahir, sampai saat ini masih menjadi pertanyaan dan perbedaan pendapat para ahli sejarah.
 Hal itu disebabkan karena belum terdapat catatan yang pasti tentang hal tersebut. Satu-satunya data yang dapat dihubungkan dengan tempat kelahiran Hamzah adalah Fansur, yang merupakan suatu tempat yang terletak antara Sibolga dan Singkel. Dari sebutan namanya Hamzah Fansuri, yang berarti Hamzah dari Fansur, yang menunjukkan bahwa Hamzah memang berasal dari Fansur yang merupakan pusat pengetahuan Islam lama di Aceh bagian Barat Daya. Hal yang sama dikatakan oleh Francois Valentijn bahwa Hamzah Fansuri seorang penyair Melayu termasyhur yang dilahirkan di Fansur (Barus) sehingga negeri tersebut terkenal dikarenakan syair-syair Melayu gubahannya. 
Namun menurut Syech Muhammad Naguib Al-Attas berpendapat bahwa Hamzah lahir di Syahrawi, Ayuthia Ibukota Siam lama hal ini didasarkan pada syairnya :
“Hamzah asalnya Fansuri
Mendapat wujud di tanah Syahrawi
Beroleh khilafah ilmu yang ‘adil
Daripada Abdul Qadir Sayid Jailani”
Dalam hal ini pada bait ke dua mendapat wujud di tanah Syahrawi dipahami sebagai Hamzah lahir di sana. Namun pendapat L.F. Brekel, Drewes mengatakan bahwa wujud dalam bait kedua itu diartikan bahwa Hamzah hendak mengatakan di syahrawilah dia bertemu dengan Tuhan. Artinya hamzah memulai mempelajari tarekat Wujudiayah. Kontroversi mengenai tempat kelahiran Hamzah seorang ulama besar ini memang tidak akan pernah selesai, karena data yang ada masih dipertentangkan dan belum ada yang akurat, hanya berdasarkan perkiraan-perkiraan yang dikait-kaitkan dengan karya-karyanya. Hamzah fansuri diperkirakan hidup dan berkiprah sebelum dan selama pemerintahan Sultan Alaiddin Ali Ri’ayatsyah Saidil Mukammil (1588-1604). Kraemer berpendapat bahwa Hamzah hidup pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat syah Almukammil sampai masa awal Iskandar Muda, atau paling tidak hingga tahun 1620 M. .
Kalau kita melihat dari keberadaannya sebagai penulis produktif yang tercermin dari karya-karyanya, tentu Hamzah telah berkiprah sejak pemerintahan Sultan Alauddin bin Sultan Ahmadsyah Perak hingga pada Sultan Ali Ri’ayatsyah Al Mukammil. Hal ini dapat dilihat dalam sajaknya yang menggambarkan hubungan antara Hamzah dengan sultan, dalam syair berikut mengatakan:
“Hamba mengikat shair ini, Di bawah hadrat raja yang wali, Pada bait yang lain Hamzah menulis : Syah Alam raja yang adil,
Raja Qutub sempurna Kamil, Wali Allah sempurna wasil, Raja ‘arif lagi mukammil.
Bait-bait ini secara eksplisit memberikan pesan bahwa hubungan antara Hamzah dengan sultan adalah harmonis, bahkan kata Wali Allah dalam syairnya menampakkan bahwa pengakuan dan penghargaan Hamzah kepada sultan sebagai seorang penguasa.tertinggi. Bahkan Sultan Alaiddin Ali Riayatsyah diberi sebutan dengan wali Allah mengandung implikasi sultan memiliki “otoritas sufistik keagamaan”, yang menyiratkan bahwa wali dalam Islam bermakna seorang yang saleh yang dianugerahi kekuatan dan kelebihan yang berfungsi sebagai perantara antara Tuhan dan manusia. 
Sedangkan sebutan sufistik yang tertinggi sebagai seorang yang “sempurna atau kamil” dan “almukammil” yang berarti seorang yang sempurna atau “insan kamil.” (Amirul Hadi, 2010, 74). Hubungan yang harmonis antara Hamzah Fansuri dapat diceritakan juga oleh John Davis ketika mengunjungi Aceh tahun 1599 bahwa ada seorang pemuka agama yang sangat dihormati oleh rakyat dan penguasa beliau sebagai Syaikh al-Islam, pada masa Sultan Al Mukammil. ( Jon Davis, 1880, 151).
Paham dan pemikiran tasawuf Hamzah Fansuri yang dibawanya bersama seorang muridnya bernama Syamsuddin Al-Sumatrani adalah paham wujudiyah. Mereka berdua telah memainkan peranan penting dalam membentuk pemikiran dan praktek keagamaan kaum Muslim Nusantara pada paruh pertama abad ke- 17 M. Ajaran-ajaran mereka sangat dipengaruhi oleh karangan-karangan Ibnu Arabi dan Al-Jilli. Misalnya bahwa alam raya merupakan serangkaian emanasi neo-platonisme, dan menganggap setiap emanasi adalah aspek Tuhan. Tuhan sebagai wujud tunggal yang tiada bandingan dan sekutu menampakkan sifat-sifat kreatifNya melalui ciptaanNya.
 Pendapatnya ini merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, ayat 151 yang artinya “ Kemanapun kamu memandang akan tampak wajah Allah”. Paham ini menyebabkan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin di tuduh sesat dan menyimpang. Pemikiran mareka akhirnya ditentang oleh ulama-ulama besar Aceh yang datang belakangan, yaitu Nuruddin Ar-Raniri dan Abdul Rauf al-Singkili.
Adapun karya-karya Hamzah Fansuri antara lain:
1).Syarab al-‘Asyiqin ,
2). Asrar al-‘Arifin,
3).Al Muntahi.
Syarab al-‘Asyiqi merupakan risalah tasawuf pertama dalam bahasa melayu yang merupakan ringkasan ajaran faham wujudiyah sebagai pengantar memahami ilmu suluk. Di dalamnya diuraikan cara-cara mencapai makrifat dan tahap-tahap ilmu suluk yang terdiri dari syariat, tarekat, hakekat dan makrifat. Asrar al-‘Arifin kitab hamzah yang menguraikan pandangan falsafahnya tentang metafisika dan teologi sufi, dengan cara menafsirkan utaian syair-syair karangannya menggunakan metode hermeneutika sufi (ta’wil). Sedangkan kitab Muntahi merupakan risalah tasawufnya yang paling ringkas namun padat, yang menguraikan pandangan Hamzah Fansuri mengenai ucapan-ucapan sytahat (teofani) sufi yang sering menimbulkan perdebatan di kalangan ulama. 
Misalnya ucapan dari Mansur al-Hallaj “An al- Haqq” (Akulah kebenaran kreatif). Akhir perjalan kiprah Hamzah Fansuri kembali ke Singkil mendirikan dayah atau pesantren dan meninggal di sana. Makamnya terdapat di Desa Oboh, Kecamatan Rangkang, Kabupaten Aceh Singkil. Setelah pemekaran wilayah Desa ini masuk wilayah Kota Subulussalam. Kini makamnya dirawat dan dijaga dengan baik, namun sangat disayangkan kini telah terjadi vandalism (kerusakan) berupa pengecatan pada nisan makam, sehingga menyebabkan hilang nilai historis dan keaslian makam.

2. Syamsudin al-Sumatrani
Sufi besar yang muncul di Aceh sesudah Hamzah Fansuri ialah Syamsudin Al-Sumatrani, atau yang juga dikenal sebagai Syamsudin Pasai karena berasal dari Pasai. Sebagai penulis risalah tasawuf dia lebih produktif daripada pendahulunya itu. Banyak mengarang kitabnya dalam bahasa Melayu dan Arab. Syamsudin Pasai ini seorang ulama dan sangat disayangi sultan Iskandar Muda, sehingga ia diangkat sebagai pembantu dekatnya, Seorang pelawat Eropa yang berkunjung ke Aceh mengatakan bahwa Syamsudin sebagai bishop yang berarti seseorang mempunyai kedudukan tinggi di istana Aceh. Di samping itu ia seorang ahli politik dan ketatanegaraan seperti Bukhari al-Jauhari pengarang kitab Tajul al-Salatin (T. Iskandar, 1987)
Dalam penulisan sastra, peranan Syamsudin terutama dalam upayanya mengembangkan kritik sastra secara hermenuitika sufi (ta’wil) yang telah berkembang sejak abad 11 M. Karyanya yang menggunakan metode ta’wil ini tampak dalam risalahnya yaitu Syarah Ruba’I Hamzah Fansuri.Ta’wil merupakan metode penafsiran sastra yang melihat teks puisi sebagai ungkapan kata-kata simbolik dan metaforik yang maknanya berlapis-lapis (makna lahir, makna bathin, dan makna isyarah atau sugestif). Bahasa Melayu yang digunakan Syamsudin dalam karyanya tidak jauh berbeda dari bahasa Melayu yang digunakan penulis kitab sastra dalam abad 17-19 M.
Karya-karyanya antara lain adalah:
-. Mir’at al-Mukminin (Cermin orang beriman),
– Jauhar al-Haqaiq (Permata Kebenaran),
– Kitab al-Haraka,
– Mir’at al-Iman,
– Kitab al-Martaba (Martabat manusia),
– Mir’at al- Muhaqqiqin,
– Syarah Ruba’I Hamzah fansuri,
– Thariq al-Salihin, dan lain-lain.
Ajaran yang dibawa Syamsudin ini berakar pada pada ajaran Ibnu ‘Arabi dan menganut faham martabat tujuh yang diperoleh dari Al-Tufah al- Mursalah ila Ruhin Nabi, karya Muhammad Fadhlullah al-Burhanpuri dari India. Sultan Iskandar Muda sangat tertarik dengan ajaran tasawuf yang dibawa oleh Syamsudin Pasai sehingga beliau termasuk salah seorang pengikut faham wujudiyah. Sejumlah karyanya yang dipersembahkan untuk sultan Iskandar Muda antara lain Kitab Thariq al-Salihin dan Nur al-Daqaiq. Syamsudin Pasai meninggal dunia pada tahun 1630 M. bertepatan dengan Armada Aceh mengalami kekalahan di Malaka.
3. Nuruddi Ar-Raniri.
Ulama dan sastrawan ini berasal dari Ranir, lahir pada tahun 1568 M. di sebuah kota pelabuhan di pantai Gujarat.(Windstedt, 1968: 145; Ahmad Daudy, 1983: 49). Ayahnya berasal dari keluarga imigran Hadhramaut. Sedangkan ibuya adalah seorang Melayu. Ar-Raniri lebih dikenal sbagai ulama besar Melayu-Indonesia daripada India dan Arab. Karena sejak kecil sudah tertarik dan senang mempelajari bahasa melayu, sehingga tumbuhlah ia menjadi seorang yang sangat mencintai dunia Melayu. Iapun telah mengabdikan dirinya demi kepentingan Islam di Nusantara dengan mendapat kepercayaan dari seorang sultan pada kesultanan Aceh. Hatinya sangat tertarik dengan dunia Melayu. Setelah beberapa lama menimba ilmu ke Timur Tengah, ia berangkat ke Aceh pada tahun 1637 M. dan mendapat kepercayaan dari sultan Iskandar Thani, sebagai Syaikhul Islam. Setelah mendapat posisi yang kuat di Aceh, Ar-Raniri kemudian melancarkan pembaharuan Islam dengan radikal. Ia menentang paham Wujudiyah yang dibawa oleh Hamzah Fansuri dan Syamsudin Al-Sumatrani. Ar-Raniri menuduh mereka berdua telah sesat dan menyimpang dari ajaran Islam. Orang-orang yang menolak melepaskan keyakinannya yang sesat akan dibunuh, dan banyak buku/kitab-kitab Hamzah Fansuri dibakar.
Dalam pembaharuannya, Ar-Raniri memperkenalkan corak keilmuan dan wacana keagamaan yang baru. Meskipun ia juga seorang penganut Wujudiah dan pengikut Ibnu ‘Arabi, namun dalam menafsirkan ajaran wujudiyah ia ketat bertolak pada syariat dan fikih. Paham wujudiyah yang dianutnya tidak hanya penekanan pada tasawuf saja, tetapi juga menjelaskan kepada kaum Muslim Nusantara dasar-dasar keimanan, aturan-aturan fikih, perbandingan agama, pentingnya hadis, serta sejarah. Untuk menjelaskan semua itu, ia menerjemahkan dan menyusun kitab-kitab yang membahas berbagai macam pengetahuan dan sastra sesuai dengan kondisi umat Islam-pada saat itu. Karya-karyanya cukup banyak lebih dari 40 kitab antara lain :
– Sirat- al-Mustaqim (Jalan Lurus), merupakan kitab fikih yang pertama dan lengkap ditulis dalam bahasa melayu.
– Daral al- Faraid, membahas tentang tauhid dan falsafah keimanan.
-Lata’ih al-Asrar,
– Hall al-Dzill ma’a Sahabihi,
– Umdat al- I’tiqad,
-Hujaj al-Sidiq,
-Jauhar al-‘Ulum,
– Ma’al Hayat, dan lain-lain.
– Bustanus al-Salatin, (Taman Para Raja), nama lengkapnya kitab ini adalah Bustanu al-Salatin fi al-Awwaliin wa al-Akhirin. Kitab ini disusun atas permintaan Sultan Iskandar Thani, yang berisi masalah ketatanegaraan dan sejarah. Kitab ini merupakan penyempurnaan dari kitab Tajul al-Salatin (Mahkota Raja-raja) yang dikarang oleh Bukhari Al-Jauhari. Kitab Bustanussalatin ini tidak hanya membahas tentang ketatanegaraan, sejarah saja tetapi juga memuat eskatologi, dan berbagai persoalan lain yang berkaitan dengan fikih, tasawuf dan usuluddin. Karena tebalnya kitab ini sampai kini tidak diterbitkan secara utuh, hanya bagian bab demi bab saja diterbitkan dalam buku terpisah. Kitab Bustanussalatin ini sangat penting sebagai sumber penulisan sejarah Aceh yang mengisahkan tentang Sultan Iskandar Thani, Taman Raja yang dibangun sejak masa Sultan Iskandar Muda.
Ada beberapa kitab tasawuf yang dikarangnya berisi hujatan dan kecaman pada Hamzah Fansuri dan Syamsudin al-Sumatrani. Peranan Ar-Raniri cukup besar dalam pembentukan tardisi keilmuan yang bercorak ortodoksi di Nusantara. Usaha pembaharuan Ar-Raniri tidak berlangsung lama karena reputasinya tergusur oleh murid dan pengikut Hamzah dan Syamsudin. Setelah Sultan Iskandar Thani wafat Nuruddin Ar-Raniri meninggalkan Aceh dan kembali nke tanah airnya. Namanya kini diabadikan pada sebuah Perguruan Tinggi Islam yaitu “Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniri”.



4. Abdul Rauf al-Singkili
Abdul Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili adalah seorang ulama besar Aceh yang terakhir. Ia lahir di Fansur, dibesarkan di Singkel, wilayah pantai Barat-Laut Aceh. Diperkirakan lahir tahun 1615 M. Ayahnya Syech Ali Fansuri masih bersaudara dengan Syech Hamzah Fansuri. Beliau menghabiskan waktunya selama 19 tahun untuk menuntut berbagai cabang ilmu Islam di Haramayn. Setelah selesai belajar berbagai macam ilmu agama ia kembali ke Aceh dan membaktikan dirinya di Kesultanan Aceh. Pada masa pemerintahan Ratu Safiatuddin Abdul Rauf ini diangkat sebagai Mufti kesultanan Aceh menjadi Qadhi Malikul Adil. Dalam kiprahnya beliau melanjutkan usaha pembaharuan yang pernah dirintis oleh Ar-Raniri. Tema sentral pembaharuannya diutamakan pada rekonsiliasi, dengan memadukan secara simponi tasawuf dan syariah. Kegagalan Ar-Raniri menentang menentang paham wujudiyah dilanjutkan oleh Abdul Rauf, tetapi tidak dengan jalan radikal. Beliau sangat bijaksana dalam menyikapi dua hal yang bertentangan dan tidak bersikap kejam terhadap mereka yang menganut paham lain. Beliau juga mengecam sikap radikal yang dijalani Ar-Raniri. Dengan bijaksana mengingatkan kaum Muslimin Nusantara bahwa jangan tergesa-gesa dan bahayanya menuduh orang lain sesat atau kafir.
Tarekat yang dijalankan Abdul Rauf adalah tarekat Syatariyah karena mengikuti dan telah mendapat ijazah dari gurunya Ahmad Al-Qusyasyi, sehingga nama beliau tercantum pada silsilah Syatariyah di Aceh. Bahkan nama Qusyasyi begitu dikenal dan melekat di daerah Sumatera dan Jawa, bahkan tarekat Syatariyah ini dalam naskah-naskah tertentu disebut tarekat Qusyasyiyah.
Abdul-rauf ini aktif menulis karya-karya keagamaan yang membahas masalah fikih, ilmu kalam, tasawuf dan tafsir.
Karya-karyanya antara lain:
–   Mir’atu ath-Thullab fi Tashil Ma’rifatil ahkam wasy-syar’iyah
–   Umdatul Muhtajin ila suluki Maslah al-Mufridin
–   Kifayat al- Muhtajin ila Suluk Maslak Kamal al-Tahbir
–   Li’l Malik al-Wahhab
–   Turjumun al- Muwahhidin al-qaili bi Wahdah al- Wujud
Ulama Abdul Rauf ini seorang yang giat mengembangkan pemikiran dan penyebaran Islam dan banyak mencetak murid-murid yang juga memainkan peranan penting dalam penyebaran islam di berbagai daerah, sehingga menyebabkan jangkauan pengaruh Aceh sangat luas. Di dalam kiprahnya mengajarkan dan mengembangkan agama Islam terus dilakukan, di dayahnya bernama Rangkang Teunku Syiah Kuala di Pantai Kuala, yang merupakan salah satu dayah/rangkang yang banyak menghasilkan ulama-ulama yang berkwalitas sebagai penerusnya. Antara lain muridnya yang terkenal adalah Syech Burhanuddin dari Minangkabau yang turut berkiprah menyebarkan agama Islam di Minangkabau. Syech Abdul Rauf meninggal dan dimakamkan di kuala raya Desa Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.
Ketika terjadi bencana gempa dan tsunami di Aceh, makam ini rusak ringan dan kedua nisannya dalam keadaan patah lelah. Kemudian oleh pihak Yayasan Yamsika telah melakukan perbaikan dengan cara mengecor nisan tersebut lalu dipasangkan pada jirat makam. Hal itu dilakukan secara sepihak tanpa ada koordinasi sebelumnya dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Banda Aceh dan instansi terkait lainnya. Sehingga tindakan ini telah menyalahi dari prinsip teknis pemugaran, dan perlindungan cagar budaya sebagaimana telah diatur dalam undang-undang nomor 11 tahun 2011 tentang cagar budaya.
Foto: Kaligrafi arab berbunyi: “Al-Waly al-Mulky al-Haj Syech Abdul-Rauf bin Aly, dalam khat Thulust yang terukir pada jirat Makam Tgk. Syiah Kuala
Foto: Kondisi Makam Syech Abdul Rauf setelah rekonstruksi pasca tsunami
III. Penutup.
Beberapa tokoh ulama telah memainkan peranan penting dalam Penyebaran Islam masa awal di Aceh dan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam dunia Islam. Mereka telah berjuang dan berkiprah dalam usaha memperkenalkan nilai-nilai Islam dan benar-benar mengajak masyarakat untuk melakukan syariat Islam dengan menyampaikan ajaran-ajaran ortodoksi (ajaran yang berpeganghanya kepada Al-Qur’an dan As-Sunah). Dengan melalui karya-karya kitab yang disusunnya, dan dalam bahasa sastra yang indah sehingga pengamalan nilai-nilai ajarannya dengan mudah dipahami oleh masyarakat pada saat itu.
Bukti kejayaan dan kebesaran ulama- ulama besar tersebut kini dapat disaksikan sebagai saksi sejarah dengan masih adanya pusara/makam-makam di Banda Aceh dan di Kota Subulussalam. Tinggalan-tinggalan sejarah tersebut harus tetap dilindungi, dijaga dan dirawat agar dapat dilestarikan kepada generasi mendatang, sebagai cagar budaya.
Daftar Pustaka
Abdul Hadi, Hamzah Fansuri; Risalah dan Puisi-puisinya, Bandung: Mizan, 1995
Ali Ahmad, Karya-karya Bercorak Sejarah, Kuala Lumpur: Dewan bahasa dan Pustaka,1987
Ali Hasymi, Syarah Ruba’I Hamzah Fansuri oleh Syamsudin Al-Sumatrani, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka,       1984 AD. Pirous, dkk, Aceh Kembali ke Masa Depan, Jakarta: IKJ Press, 2005
Ali, Hasymi, Aceh Merdeka di Bawah Pemerintahan Ratu, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
Amirul Hadi, Aceh, Sejarah, Budaya, dan Tradisi, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010
Machi Suhadi, Halina Hambali, Makam-makam Wali Sanga di Jawa: Depdikbud, 1995
Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Medan: Harian Waspada, 1961
Ridwan Azwad, dkk, Aceh Bumi Iskandar Muda, Banda Aceh: Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam, 2008
Rusdi Sufi, dkk, Sejarah Kebudayaan Aceh, Banda Aceh: PDIA, 2003
Soekama Karya, dkk, Ensiklopedi Mini Sejarah & Kebudayaan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1996
AZakaria Ahamad,  Aceh (Zaman Prasejarah & Zaman Kuno), Banda Aceh: Pena, 2008…………….., Pasai Kota Pelabuhan Jalan Sutra, Jakarta: Depdikbud, 1997
Hosein Jaya Diningrat, dkk, Dari Sini Ia Bersemi, Banda Aceh: Pemerintah Daerah Istimewa Aceh, 1981

 Sumber  : http://kebudayaan.kemdikbud.go.id

Kisah hidup Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Syurusyan al-Bisthami

Kisah hidup Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Syurusyan al-BisthamiRiwayat hidup Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Syurusyan al-Bisthami
Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Syurusyan al-Bisthami termasuk Sufi yang masyhur, tetapi pendapat-pendapatnya sering kontroversial, sehingga banyak orang yang mengecamnya.

Dialah tokoh paling unik dalam dunia mistik Islam. Kehidupannya banyak diliputi keistimewaan seperti dongeng. Ia hidup semasa zaman  sufi besar Al-Hallaj di abad ke-9 Mesehi atau ke-3 Hijriyah. Meskipun pendapatnya sering kontroversial, sehingga memancing banyak kecaman, ia adalah salah seorang tokoh yang menjadi tonggak sejarah tasawuf dalam Islam. dialah Abu Yazid Al-Bisthami, sufi penemu istilah-istilah tasawuf yang disebut Ittihad (bersatunya pribadi dengan Allah), Fana (leburnya pribadi dengan Allah), Baqa (keabadian sifat-sifat Allah dalam Pribadi).

Dilahirkan dengan nama Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Syurusyan al-Bisthami di Desa Bustham, persia (Iran) sebelah timur laut. Di sana pula ia wafat pada tahun 261 H / 874 M atau 264 H / 877 M. Tanggal dan bulan kelahirannya tidak ada yang mencatat, sebab perjalanan riwayat hidupnya memang sangat sulit dilacak. Yang ada hanyalah beberapa catatan klasik yang terserak-serak. Diantaranya dalam kitab Tadzkirul Awliya karya Fariduddin Aththar, dan Kasyful Mahjub karya Al-Hujwiri. Tetapi justru sedikitnya catatan itu malah menjadikannya sebagai tokoh legendaris.

Ia adalah pioner aliran ekstatik (mabuk) dalam sufisme. Ia dikenal karena keberaniannya dalam mengekspresikan peleburan mistik menyeluruh kepada ketuhanan. Ia sangat sangat mempengaruhi imajinasi para sufi yang hidup sesudah masanya.

Seperti ulama atau sufi lainnya, sejak kacil Yasid sangat tekun mendalami ilmu agama. Dukungan moral ibunya mendorong motivasi Abu Yazid untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Ada cerita menarik tentang masa kanak-kanaknya, sang Ibu pernah bercerita, “Ketika ia masih dalam kandungan, aku sering menyuap makanan yang aku ragukan halalnya. Ketika itulah Yazid yang masih dalam kandungan memberontak sebelum aku muntahkan makanan haram itu.” Ibunya memang seorang muslim yang shalihah.

Mengenai sang Ibu yang sangat ia hormati itu, Abu Yazid pernah berkata ”Kewajiban yang kukira paling sepele di antara kewajiban lainnya, ternyata merupakan kewajiban yang paling utama, yaitu berbakti kepada Ibu. Dalam berbakti kepada Ibu itulah, kuperoleh yang segala kucari, segala sesuatu yang bisa kupahami lewat tindakan disiplin dan pengabdian kepada Allah.” Ayahnya juga seorang muslim yang saleh, sementara kakeknya penganut Zoroaster (paham yang mengajarkan menyembah Dewa Api) yang belakangan memeluk Islam.

Suatu malam, ibu memintaku untuk mengambilkan air minum, aku bergegas mengambilkan air minum untuk beliau. Namun ta ada air di teko, kemudiaan aku ambil kendi, tapi kendi itu juga kosong. Maka aku pergi kesungai untuk mengisi kendi dengan air. Ketika aku kembali ke rumah, ibuku ternyata telah tertidur kembali.”

Malam itu udara sangat dingin. Aku memegang teko dengan tanganku. Ketika ibu terbangun, ia pun minum dan mendoakanku. Lalu ia melihat bahwa teko itu membuat tanganku membeku karena kedinginan.

“Mengapa tidak engkau letakkan saja teko itu?” tanya ibuku.

“Aku takut kalau ibu terbangun, aku tidak di sisi ibu,” jawabku.

“Biarkan pintu setengah terbuka,” kata ibuku kemudian.

Sepanjang malam aku terjaga untuk memastikan bahwa pintu kamar ibuku setengah terbuka, karena aku tidak boleh mengabaikan perintahnya.

Suatu hari, di sekolah, gurunya menjelaskan makna salah satu ayat di Sura Luqman: “Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada kedua orang tuamu” Ayat ini sangat menggetarkan hati Abu Yazid.

Guru,” katanya seraya meletakkan buku catatannya, “Izinkahlah aku pulang dan mengatakan sesuatu pada ibuku.” Gurunya mengizinkan Abu Yazid pulang untuk menemui Ibunya.

“Ada apa Thaifur,” pekik ibunya. “Mengapa engkau pulang? Apa mereka memberimu hadiah, atau ada acara khusus?”

“Tidak,” jawab Abu Yazid. “Pelajaranku telah sampai pada ayat dimana Allah memerintahkan aku untuk mengabdi kepada-Nya dan kepada ibu. Aku tidak akan sanggup melaksanakan keduanya sekaligus. Ayat ini menggetarkan hatiku. Hanya ada dua pilihan: Ibu memintaku dari Allah agar aku dapat menjadi milik ibu sepenuhnya, atau ibu menyerahkanku kepada Allah agar aku dapat sepebuhnya bersama-Nya.”

“Anakku, aku serahkan dirimu kepada Allah, dan membebaskanmu dari kewajibanmu kepadaku,” kata ibunya. “Pergilah dan jadilah milik Allah.”

Abu Yazid yang tidak jemu-jemunya menuntut ilmu, tak pernah pandang siapa gurunya, konon, ia berguru kepada sekitar 113 orang  sebagian baesar guru spritual. Sebelum mempelajari ilmu tasawuf, ia belajar fikih madzhab Hanafi. Diantara guru yang paling utama adalah Abu Ali Sindi, yang memang banyak mempengaruhi ajaran-ajaran tasawufnya di belakang hari.

Di antara mereka ada yang dijuluki As-Shadiq. Abi Yazid sedang duduk ketika gurunya itu tiba-tiba berkata, “Abu Yazid, ambilkan aku kitab dari jendela itu.”

“Jendela, jendela yang mana?” Tanya Abu Yazid. Gurunya balik bertanya,

“Selama ini engkau selalu datang ke sini, dan engkau tidak pernah melihat jendela itu?”

“Tidak pernah,” jawab Abu Yazid. “Apa urusanku dengan jendela? Ketika aku berada dihadapanmu, aku menutup mataku dari hal-hal lain. Aku datang kepadamu bukan untuk melihat-lihat.”

“Kalau begitu,” kata sang guru, “Pulanglah ke Bistham, usahamu telah sempurna.”

Gagasan Tasawwuf Kontroversial
Tetapi gagasan-gagasan tasawufnya yang kontroversial sering membuat orang mengecamnya.

Misalnya pendapatnya mengenai keadaan “mabuk” dalam rangka mencintai Allah – acapkali menimbulkan salah pengertian. Jangan salah paham, yang dimaksud dengan “Mabuk” bukanlah mabuk kerena kebanyakan minum Khamer (minuman keras), melainkan keadaan mental ketika Abu Yazid sedang mengalami ekstasi yang ia sebut Fana alias “Lebur” (dengan Allah). Dalam keadaan seperti itu bicaranya terkadang tidak logis, sehingga bisa menimbulkan salah paham.

Dialah pula sufi pertama yang memperkenalkan istilah tasawuf yang disebut Fana, Baqa, Ittihad. Ajaran tasawufnya yang mengajarkan ketiga hal tersebut belum ada dalam pendangan para sufi sebelumnya. Cara pandangnya sangat berbeda dengan sufi lain, misalnya Junaid al-Bagdadi. Itu sebabnya banyak kritik terhadap ajaran tasawuf Abu Yazid. Kritik keras diantaranya datang dari sufi besar at-Taftazani, yang mengatakan bahwa Abu Yazid terlalu berlebih-lebihan dalam menyatakan Syatahat, ekspresi yang dianggap aneh pada saat mengalami Fana. Misalnya kalimat

“Anallah” (akulah Tuhan) yang di ucapkan berkali-kali.

Ajaran tentang Fana, Baqa, dan Ittihad, merupakan tiga aspek dari pengalaman spritual yang terjadi setelah tingkat tertinggi yang dicapai oleh seorang sufi, yaitu Makrifat (mengenal Allah). Yang dimaksud dengan Fana ialah lenyapnya kesadaran tentang alam, termasuk tentang diri sendiri. Kemanapun ia menghadap, yang ada di mata hatinya hanyalah Allah. Hanya yang berada dalam kesadaran. Selain Allah lenyap dari kesadaran. Karena Fana itulah, terjadilah Baqa, kesadaran tentang selain Allah Fana atau sirna, lenyap, tetapi kesadaran tentang Allah menjadi Baqa alias abadi, terus berlangsung. Sedangkan Ittihad ialah keadaan ketika seorang sufi tenggelam dalam lautan sifat-sifat ketuhanan.

Meski begitu ajaran tasawufnya sangat memperhatikan syariat dan keteladanan Rasulullah SAW. Hal itu tampak misalnya ketika ia menyampaikan salah satu nasehatnya. “Kalau engkau lihat seseorang sanggup melakukan pekerjaan keramat seperti duduk bersila di udara, janganlah terpedaya olehnya. Perhatikan apakah ia melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan menjaga batas-batas syariat.”

Dengarkan pula komentarnya ketika ia menyaksikan orang yang meludah ke arah kiblat di masjid (yang berarti melanggar sunah Rasul), padahal ia dikenal sebagai Zahid, yaitu orang yang lebih mementingkan kehidupan akherat. Katanya, “Orang itu tidak menjaga satu adab dari adab-adab Rasulullah. Kalau ia berbuat seperti itu, bagaimana dakwahnya dapat dipercaya?” Abu Yazid memang mengutamakan akhlak, yang niscaya sangat berpengaruh terhadap kehidupan rohaniah seseorang.

Ketika ia ditanya oleh seseorang, “Apa yang terbaik bagi manusia dalam kehidupan ini?”

“Watak qana’ah,” jawabnya.
“Kalau itu tidak ada?”
“Tubuh yang kuat.”
“Dan kalau itupun tidak ada?”
“Telinga yang penuh perhatian.”
“Dan tanpa itu?”
“Hati yang mengetahui.”
“Dan tanpa itu?”
“Mata yang melihat.”
“Dan tanpa itu?”
“Kematian mendadak.”

Abu Yazid membutuhkan waktu 12 tahun penuh untuk tiba di Mekkah. Itu karena di setiap tempat ibadah yang ia lalui, ia selalu membentangkan sajadahnya untuk mendirikan shalat sunnah dua rakaat.

Akhirnya ia sampai di Ka’bah. Tapi tahun itu ia tidak pergi ke Madinah. “Tidaklah pantas menjadikan kunjungan ke Madinah sebagai sekedar bagian dari kunjunganku kali ini,” ia menjelaskan. “Aku akan mengenakan pakaian haji tersendiri, bukan yang kupakai saat ini, untuk kunjunganku ke Madinah.”

Tahun berikutnya ia kembali mengenakan pakaian haji tersendiri. Di suatu kota ia berpapasan dengan sekelompok besar orang yang kemudian menjadi muridnya. Ketika ia pergi, orang-orang itu mengikutinya.

“Siapa mereka,” tanyanya sambil menengok kebelakang.

Terdengar jawaban, “Mereka ingin menemanimu.”

“Ya Allah,” pekik Abu Yazid. “Aku mohon pada-Mu, jangan jadikan aku selubung antara para hamba-Mu dan diri-Mu.”

Lalu, dengan tujuan menghapus kecintaan orang-orang itu padanya dan agar dirinya tidak menjadi penghalang di jalan mereka menuju Allah. Setelah shalat subuh, Abu Yazid memandang mereka dan berkata. “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tiada Tuhan selain aku, maka sembahlah aku.”

“Dia sudah gila,” pekik orang-orang itu, dan mereka pun pergi meninggalkan Abu Yazid.Abu Yazid meneruskan perjalanan, dan ia menemukan tendkorak yang bertuliskan: “Tuli, Bisu, dan Buta, maka mereka tidak mengerti.”

Ia memungut tengkorak itu, sanmbil menangis ia menciuminya. “Tampaknya ini kepala seseorang yang dibinasakan Allah, karena ia tidak memiliki telinga untuk mendengar suara abadi, tidak memiliki mata untuk melihat keindahan abadi, tidak memiliki lidah untuk mengagungkan kebesaran Allah, tidak memiliki akal untuk memahami sedikit saja pengetahuan hakekat Allah. Ayat ini berbicara tentangnya.”

Suatu kali Abu Yazid bepergian dengan membawa seekor unta. Ia menaruh pelana dan perbekalannya di punggung unta itu.

 “Unta kecil yang malang, sungguh berat beban yang dibawanya,” pekik seseorang, “Sungguh kejam.”

Mendengar orang itu berkata demikian terus-menerus, Abu Yazid akhirnya menjawab, “Anak muda, bukan unta kecil ini yang membawa beban.”

Anak muda itu melihat punggung unta Abu Yazid. Ia melihat bahwa perbekalan Abu Yazid melayang di atas punggung unta itu, dan unta itu tidak terbebani sedikit pun.

“Kemuliaan atas Allah, sungguh menakjubkan!” teriak anak muda itu.

“Jika aku menyembunyikan kebenaran tentang diriku, engkau mencela,” kata Abu Yazid. “Namun jika aku memperlihatkannya, engkau tidak mampu memikulnya, lantas aku harus bagaimana?”

Mi’rajnya Abu Yazid
Ia mengisahkan tentang Mi’rajnya sebagai berikut:

Aku memandang Allah dengan mata keyakinan setelah Dia mengangkatku ke derajat kemerdekaan dari semua makhluk dan Dia memberikan pencerahan kepadaku dengan cahaya-Nya, menyingkapkan rahasia-rahasia-Nya yang menakjubkan dan memanifestasikan kebesaran ke-Dia-an-Nya. Aku memandang diriku sendiri, dan merenungkan dalam-dalam rahasia-rahasia dan sifat-sifatku. Cahayaku adalah kegelapan di sisi cahaya-Nya. Kebesaranku menyusut menjadi keburukan di sisi kebesaran-Nya. Kemuliayaanku hanyalah kesombongan disisi kemuliaan-Nya. Milik-Nya lah segala kesucian, dan milikku lah segala kekotoran.

Saat aku memandang lagi, aku melihat keberadaanku berasal dari cahaya-Nya. Aku sadar bahwa kebesaran dan kemuliaanku berasal dari kebesaran dan kemuliaan-Nya. Apa saja yang aku lakukan, aku lakukan dengan kemampuan yang berasal dari kemahakuasaan-Nya. Apapun yang dilihat oleh mata tubuh fisikku, dilihat melalui-Nya. Aku memandang dengan mata keadilan dan realitas. Semua ibadahku merupakan karunia-Nya, bukan dariku, namun aku menyangka bahwa akulah yang menyembah-Nya

Aku merenung, “ Ya Allah, apa ini?”

Dia berkata, “Aku, dan bukan selain-Ku.”

Lalu Dia menjahit mataku, agar tidak menjadi alat untuk melihat, agar aku tidak melihat. Kemudian Dia mengajarkan pokok permasalahan, yakni ke-Dia-an-Nya pada pandangan mataku. Dia mencerabut aku dari keberadaanku, dan membuatku abadi melalui keabadian-Nya. Dia menyingkapkan ke-Esa-an-Nya, tak terdesak oleh keberadaanku.

Di sana aku terdiam sejenak, aku menemukan ketenangan. Aku menutup telinga penentangan, aku menarik lidah hasrat ke dalam tenggorok kekecewaan. Aku mengabaikan pengetahuan yang dipelajari, dan mengenyahkan campur tangan jiwa yang mengajak kepada keburukan. Aku tetap diam sejenak, tanpa alat dan perantara apapun, dan dengan tangan kesucian-Nya aku menyapu bid’ah dari jalan-jalan akar prinsip-prinsip.

Allah mengasihiku, Dia menganugrahiku pengetahuan hakiki, dan memasang lidah kebaikan-Nya kedalam tenggorokanku. Dia menciptakan mataku dari cahaya-Nya, maka aku melihat semua makhluk melalui-Nya. Dengan lidah kebaikan-Nya aku berkomunikasi dengan-Nya, dari pengetahuan-Nya aku memperoleh pengetahuan, dan dengan cahaya-Nya aku memandang-Nya.

Dia berkata, “Wahai engkau yang semua tanpa semua maupun dengan semua, tanpa kelengkapan maupun dengan kelengkapan!”

Aku berkata, “Ya Allah, jangan biarkan aku terpedaya oleh hal ini, jangan biarkan aku berpuas diri dengan keberadaanku, tidak merindukan-Mu. Lebih baik Engkau menjadi milikku tanpaku, daripada aku menjadi milikku sendiri tanpa-Mu. Lebih baik aku berbicara pada-Mu melalui-Mu, daripada aku berbicara pada diriku sendiri tanpa-Mu.”

Aku berkata, “Aku telah menyatakan keimananku dan hatiku percaya dengan teguh.”Dia memberi pencerahan padaku, dan menghantarkanku keluar dari kegelapan jiwa jasmani dan pelanggaran-pelanggaran watak badaniah. Aku sadar bahwa melalui-Nya lah aku hidup, dank arena karunia-Nya aku dapat menghamparkan permadani kebahagiaan dalam hatiku.

Aku mengatakan, “Aku menginginkan-Mu, karena Engkau lebih baik daripada karunia, lebih besar daripada kedermawanan, dan melalui-Mu aku telah menemukan kepuasan dalam diri-Mu. Jkarena Engkau milikku, aku telah menggulung lembaran karunia dan kedermawanan. Jangan cegah aku dari-Mu, dan jangan tawarkan aku apa yang rendah di hadapan-Mu.”

Melihat kelemahan dan kebodohanku, Dia memperkuatku dengan kekuatan-Nya dan menghiasiku dengan perhiasan-Nya.

Dia menyematkan mahkota kemurahan hati di kepalaku, dan membukakan pintu istana ke-Esa-an bagiku. Ketika Dia melihat bahwa sifat-sifatku menjadi hampa di hadapan-Nya, Dia menganugerahiku sebuah nama dari kehadiran-Nya, dan memanggilku dengan ke-Esa-an-Nya.

Lalu Dia membuatku merasakan tikaman kecemburuan dan membangkitkanku lagi. Aku bangkit dalam kesucian dari tungku ujian. Dia berkehendak untuk menunjukkan bahwa bila tanpa kasih saying-Nya, semua makhluk ini tidak akan pernah menemukan ketenangan, dan bahwa bila tidak karena cinta-Nya, niscaya kemahakuasaan-Nya dapat menimbulkan kerusakan pada segala hal.

Aku menncari dalam padang belantara yang luas, tak ada permainan yang aku lihat yang lebih baik daripada kefakiran yang amat sangat, tak ada sesuatu yang aku ketahui yang lebih baik daripada ketidakmampuan absolut. Tak ada lampu yang aku lihat lebih terang daripada diam, dan tak ada kata-kata yang aku dengar yang lebih baik daripada kebungkaman. Aku menjadi penghuni istana kesunyian, aku mengenakan pakaian ketabahan, hingga segala persoalan mencapai inti mereka.

Dia membuka celah kelegaan dalam dadaku yang kelam, dan memberiku lidah kebebasan dan penyatuan. Maka kini aki memiliki lidah, hati dan mata karya Ilahi.

Dengan pertolongan-Nya aku bicara, dengan kekuatan-Nya aku menggenggam.

Lidahku adalah lidah penyatuan, jiwaku adalah jiwa pembebasan. Bukanlah dariku aku bicara, aku hanya penyampai belaka, juga bukan melaluiku aku bicara, aku hanya pengingat belaka. Dia menggerakkan lidahku sesuai dengan kehendak-Nya. Aku tiada lain hanya penerjemah belaka. Kenyataannya, Dialah yang berbicara, bukan aku.

“Aku tidak ingin melihat makhluk-Mu, namun jika Engkau berkehendak untuk menghadirkanku dihadapan para makhluk-Mu, aku tidak akan menentang-Mu, letakkan aku dalam ke-Esa-an-Mu, sehingga ketika makhluk-makhluk-Mu melihatku dan memandang karya-Mu, mereka akan melihat yang mencipta, dan aku tidak berada disana sama sekali”

Dia mengabulkan permohonanku, dan menyemaikan mahkota kemurahan hati dikepalaku, dan membuatku melampaui maqam watak badaniahku.

Ia juga mengisahkan: ketika aku mencapai penyatuan, adan itulah saat pertama kali aku merasakan yang Esa, selama bertahun-tahun aku berlari dalam lembah itu dengan kaki pemahaman, hingga aku menjadi seekor burung yang tubuhnya adalah ketunggalan, yang sayapnya adalah.keabadian, aku terus terbang ke cakrawala ke-tanpasyarat-an. Saat aku telah lenyap dari segala yang diciptakan.

“Ya Allah, apapun yang telah aku lihat, segalanya aku.tiada jalan bagiku menuju-Mu, selama masih ada “aku” yang tersisa, tak ada pelampauan kedirianku bagiku. Apa yang harus aku lakukan?”

“Untuk menghilangkan ke-Aku-anmu, ikutilah kekasih-Ku, Muhammad saw, urapi matamu dengan debu kakinya, dan teruslah mengikutinya.”

Yahya bin Mu’adz mengatakan dalam suratnya kepada Abu Yazid, “Apa pendapatmu tentang seorang yang telah meminum segelas anggur, dan menjadi mabuk dari sartu keabadian ke keabadian lannya?”

Abu Yazid membalas suratnya, “Aku tidak tahu tentang hal itu, yang kutahu, ini adalah seorang yang seharian penuh, siang dan malam, menguras seluruh lautan dari satu keabadian ke keabadian lainnya dan meminta lagi.”

Yahya bin mu’adz menulis lagi, “Aku punya satu rahasia. Surga adalah tempat pertemuan kita, di sana, di bawah naungan pohon Tuba, aku akan memberitahukannya kepadamu.”

Bersama dengan suratnya, Yahya juga mengirimkan sepotong roti yang bertuliskan: |Seorang guru spiritual harus mengambil manfaat roti ini, karena adonannya aku campur dengan air zamzam.”

Dalam surat balasannya, Abu yazid berkata, “Mengenai tempat pertemuan yang engkau sebutkan, dengan perhatian-Nya padaku, bahkan sekarang aku tengah menikmati surga dan naungan pohon Tuba. Sedangkan mengenai rotimu, aku tidak dapat memakannya, engkau telah mengatakan dengan air apa engkau mengadoninya, namun engkau tidak mengatakan benih apa yang engkau taburkan.”

Akhirnya Yahya memendam kerinduan yang amat sangat untuk bertemu dengan Abu Yazid. Lalu ia datang berkunjung dan tiba pada waktu salat malam (magrib dan isya’).

“Aku tidak boleh mengganggu sang syekh,” kata Yahya dalam hati. “Namun aku juga tidak dapat menahan kerinduanku hingga pagi. Kemudian aku melanjutkan perjalananku menuju padang pasir dimana Abu yazid berada, sebagaimana dikatakan orang-orang kepadaku. Aku melihat sang syekh mendirikan shalat malam, kemudian hingga keesokan harinya ia berdiri di ujung jari-jari kakinya. Aku berdiri mematung diliputi rasa kagum, dan sepanjang malam aku mendengar ia sibuk berdoa. Saat fajar tiba, ia berujar, “Aku berlindung pada-Mu dari meinta maqam ini kepada-Mu.”

Lalu Yahya memulihkan dirinya dari kekagumannya, dan memberi salam kepada Abu Yazid, kemudian bertanya tentang apa yang telah terjadi padanya semalam.

“Lebih dari 20 maqam disebutkan satu persatu kepadaku,” jawab Abu yazid. “Namun aku tidak menginginkan satu pun, karena semua maqam itu adalah maqam penghijaban.”

“Wahai syekh, mengapa anda tidak meminta makrifat kepada Allah, karena Dia adalah raja dari segala raja dan telah berfirman, “Mintalah apa saja yang kalian kehendaki?”

“Diamlah,” tujas Abu Yazid. “Aku cemburu kepada diriku sendiri karena mengenal-Nya, sebab aku ingin tidak seorangpun mengenal-Nya kecuali Dia. Dimana pengetahuan-Nya, apa urusanku, sehingga aku harus campur tangan? Wahai Yahya, sudah merupakan kehendak-Nya bahwa hanya Dia, dan tidak selain-Nya, yang mampu mengenal-Nya.”

“Demi keagungan Allah,” tutur Yahya, “Berilah aku sedikit saja karunia yang engkau dapatkan semalam.”

Abu Yazid mengatakan, “Jika engkau diberi keterpilihan Adam, kekudusan Jibril, persahabatan Ibrahim, kerinduan Musa, kesucian Isa, dan cintanya Rasulullah Muhammad saw, niscaya engkau mesih belum puas juga. Engkau akan terus mencari lebih, melampaui segala hal. Tetapkan pandanganmu ke atas, dan jangan pernah turun, karena apapun yang engkau turun kepadanya, dengannyalah engkau terhijabi.”
***
    Diriwayatkan, ada seorang Asket yang merupakan seorang wali besar Kota Bistham. Ia memiliki banyak murid dan pengagum, namun ia mesih selalu menghadiri majelis Abu Yazid. Ia menyimak semua perkataan

Abu Yazid, dan duduk bersama para murid Abu Yazid.

Suatu hari ia berkata kepada Abu Yazid, “Wahai syekh, hari ini telah genap 30 tahun aku berpuasa. Di malam hari aku berpuasa dan mendirikan shalat malam, jadi aku tidak pernah tidur sama sekali. Namun tetap saja aku tidak menemukan dalam diriku jejak pengetahuan yang engkau miliki. Aku meyakini pengetahuan ini, dan aku mencintai pengajaran ini.”

Abu Yazid berkata, seandainya selama 300 tahun engkau berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari, niscaya engkau tetap tidak akan pernah memahami walau hanya secuil dari pengetahuan ini.”

“Mengapa,” tanya si murid Abu Yazid itu.

“Karena engkau terhijab oleh dirimu sendiri,” jawab Abu Yazid.

“Lalu apa obatnya?” Tanya lelaki itu.

“Engkau takkan pernah menerimanya,” jawab Abu Yazid.

“Aku akan menerimanya,” tukas lelaki itu. “Katakanlah padaku, agar aku dapat melakukan apa yang engkau resepkan.”

“Baiklah,” kata Abu Yazid. “Saat ini juga, pergi dan cukurlah janggut serta rambutmu. Tanggalkanlah pakaian yang engkau kenakan kini, dan pakailah celana wol sebatas pinggangmu, gantungkan sekantong kacang di lehermu, kemudian pergilah ke pasar. Kumpulkanlah anak-anak sebanyak yang engkau mampu, katakana pada mereka, “Aku akan memberikan kacang kepada siapa saja yang mau menamparku,” lalu pergilah ke seluruh penjuru kota dan lakukanlah hal yang sama, terutama pergilah ke tempat-tempat dimana orang-orang mengenalmu. Itulah obat bagimu.”

Kemuliaan atas Allah !, tiada Tuhan selain Allah!” pekik  lelaki itu mendengar penjelasan Abu Yazid.

“Jika seorang kafir mengucapkan kata-kata itu, maka ia menjadi seorang muslim,” tukas Abu Yazid. “Namun dengan mengucapkan kata-kata yang sama, engkau telah menjadi seorang polities.”

“Bagaimana bisa begitu?” tanya lelaki itu.

“Karena engkau menganggap dirimu terlalu besar untuk melakukan apa yang telah aku katakana,” jawab Abu Yazid. “Maka dengan begitu engkau telah menjadi seorang polities. Engkau menggunakan kalimat tadi untuk mengungkapkan kebesaran dirimu, bukan untuk memuliakan Allah.”

“Aku tak dapat melakukannya,” protes lelaki itu, “Berilah aku petunjuk yang lain.”

“Obatnya adalah apa yang telah aku katakana,” tukas Abu Yazid.

Aku tak dapat melakukannya,” kata lelaki itu.

“Bukanlah telah aku katakana bahwa engkau tidak akan mau melakukannya, bahwa engkau tidak akan pernah mematuhiku,” tutur Abu Yazid.

Selama lima tahun aku menjadi cermin bagi diriku sendiri, dan aku menggosok cermin itu dengan ibadah dan kepatuhan mutlak kepada Allah. Setelah itu, aku memandang cerminku sendiri selama satu tahun, aku melihat sebuah “korset kafir”  angan-angan, main-main dan egoisme, mengikat pinggangku, karena aku mengandalkan ibadah dan kepatuhanku sendiri serta puas dengan perilakuku sendiri.

Selama lima tahun berikutnya, aku bekerja keras hingga korset itu menghilang dan aku menjadi seorang muslim sekali lagi. Aku memandang semua makhluk, dan melihat mereka semua mati. Aku bertakbir empat kali untuk mereka, dan kembali dari upacara penguburan mereka tanpa berdesakan dengan makhluk-makhluk Allah. Dengan pertolongan Allah, aku mencapai-Nya.

Setiap kali Abu Yazid tiba di pintu sebuah masjid, ia akan berdiri sejenak dan menangis.




“Mengapa engkau melakukan ha “Aku merasa diriku bagai seorang wanita yang tengah haid, yang malu untuk memasuki masjid dan takut mengotorinya.” Jawabnya.

Pir Umar mengisahkan bahwa ketika Abu Yazid hendak mengasingkan diri untuk beribadah, ia akan masuk kerumahnya dan menutup rapat-rapat semua celah yang ada. “Aku takut ada suara-suara atau kebisingan yang akan menggangguku.” Katanya.

Tentu saja perkataannya itu hanya dalih. Isa al-Bisthami mengisahkan, “Aku bergaul dengannya selama 13 tahun dan aku tidak pernah mendengar mengucapkan satu patah katapun. Ia meletakkan kepala di atas lututnya, begitulah kebiasaannya, sesekali ia mengangkat kepalanya, mendesah, lalu kembali beribadah.”

Sahlagi juga mengisahkan bahwa memang begituylah kebiasaan Abu Yazid saat ia tengah berada dalam keadaan “menyusut” sebaliknya, di hari-hari ia tengah berada dalam keadaan “mengembang”, setiap orang merasakan manfaat yang besar dari nasehatnya.

Suatu ketika,  saat ia mengasingkan diri, ia berkata, “Kemuliaan atasku, betapa besar martabatku”. Ketika ia kembali menjadi dirinya sendiri, para muridnya memberitahukan bahwa ia telah berkata demikian. Ia menjawab, “Allah adalah musuhmu, dan Abu Yazid juga musuhmu. Jika aku berbicara seperti itu lagi, potonglah-potonglah tubuhku,” kemudiaa ia memberi setiap muridnya sebilah pisau seraya berkata, “Jika kata-kata itu meluncur dari mulutku lagi, bunuhlah aku dengan pisau ini.”

Ternyata perkataan itu meluncur lagi dari mulut Abu Yazid. Seluruh ruangan terasa sesak dipenuhi oleh Abu Yazid (yang membesar). Agar tidak terhimpit, para sahabatnya menarik keluar batu bata dari dinding, dan masing-masing menusuknya dengan pisau. Pisau-pisau itu menusuk tubuh Abu Tazid seperti menusuk air, tak satupun tusukan yang dapat melukainya. Setelah beberapa saat, bentuk Abu Yazid kembali seperti semula, kemudian menyusut, hingga ia tampak seperti burung pipit, duduk di mihrab. Para sahabatnya menghampirinya dan mengatakan apa yang terjadi padanya. “Ini adalah Abu Yazid, ia yang kini kalian lihat,” ujarnya. “Yang tadi bukanlah Abu Yazid.”

Suatu hari, seorang lelaki yang tidak mempercayai Abu yazid mendatangi untuk mengujinya. “Jelaskan padaku jawaban dari masalah ini,” katanya. Abu Yazid menangkap gelagat ketidak percayaan lelaki itu. Abu Yazid menjawab pertanyaan lelaki itu, “Di gunung itu ada sebuah gua, di gua itu ada seorang sahabatku, mintalah jawaban darinya.”

Lelaki itupun bergegas menuju gua yang dimaksud, disana ia melihat seekor naga yang sangat besar dan mengerikan. Seketika ia jatuh pingsan. Pada saat siuman. Ia burur-buru pergi dari mulut gua itu dan meninggalkan sepatunya yang terlepas disana. Ia kembali menemui Abu Yazid, bersimpuh dihadapannya dan bertobat.
Abu Yazid berkata kepada lelaki itu, “Engkau tidak mampu menjaga sepatumu, hanya karena rasa takutmu kepada makhluk. Lalu, dalam keterpesonaan kepada Allah, bagaimana engkau bisa menjaga “Penyingkapan” yang engkau cari dalam ketidakpercayaanmu?”

Ada seorang lelaki mendatangi kediaman Abu Yazid dan memanggilnya.

“Siapa yang engkau cari,” tanya Abu Yazid.

“Abu Yazid,” jawab lelaki itu.

“Lelaki yang malang!” kata Abu Yazid, aku telah mencari Abu Yazid selama 30 tahun, namun jejak dan tanda-tandanya pun tidak kutemukan.”

Kejadian ini dilaporkan kepada Dzun Nun. Ia berkomentar, “Allah mengasihi saudaraku Abu Yazid! Ia hilang ditemani oleh seorang yang hilang dalam Allah.”

Betapa sempurnanya peleburan diri Abu Yazid kepada Allah. Sampai-sampai setiap saat disapa oleh seorang muridnya yang selalu bersamanya selama 20 tahun, ia akan berkata, “Anakku, siapa namamu?”

“Guruku, anda mengolok-olokku, telah genap 20 tahun aku melayani guru, namun masih saja setiap hari guru menanyakan namaku,” kata si murid.

“Anakku,” jawab Abu Yazid, “Aku tidak mengolok-olokmu, namun nama-Nya telah menguasai hatiku, dan telah menghapus semua nama lain. Setiap nama yang baru aku ketahui, pasti segera hilang dari ingatanku, dan aku selalu dirasuki oleh keinginan, yaitu keinginanku adalah tidak memiliki keinginan.”

Saat menjelang ajalnya, ia menuju mihran dan mengenakan korset, ia mengenakan jubah dan penutup kepalanya secara terbalik.

Kemudian berkata:

“Ya Allah, aku tidak membesar-besarkan disiplin yang telah kujalani hampir seumur hidupku. Aku tidak memamerkan seluruh shalat malamku. Aku tidak menggembar-gemborkan puasa yang telah kulakukah hampir sepanjang hidupku. Aku tidak menghitung-hitung bacaan Qur’anku. Aku tidak membicarakan dan memamerkan pengalaman, doa-doa dan kedekatan spiritualku.

Engkau tahu bahwa aku tidak mengungkit-ungkit apapun, dan apa yang aku katakana sekarang ini tidaklah dimaksudkan untuk membesar-besarkannya, tidak juga karena aku tergantung padanya. Aku mengatakan semua ini karena aku malu atas apa yang telah aku lakukan. Engkau telah mengaruniaiku kemuliaan untuk melihat diriku sendiri mulia. Semuanya ini tidaklah berarti apa-apa, tiada bernilai.

Aku adalah seorang lelaki tua Turkistan berusia 70 tahun yang rambutnya telah memutih dalam kekafiran. Aku datang dari gurun Pasir sambil memekik, “Tangri… Tangri…” baru sekarang aku belajar mengatakan, “Allah… Allah…” baru sekarang aku merobek korsetku. Baru sekarang aku melangkahkan kakiku ke lingkaran Islam. Baru sekarang aku gerakkan lidahku untuk melafalkan kalimat syahadat.

Semua yang Engkau lakukan, Engkau lakukan tanpa sebab, penerimaan-Mu bukan disebabkan kepatuhan hamba-Mu, dan penolakan-Mu bukan disebabkan pembangkangan hamba-Mu. Semua yang kulakukan tiada lain hanyalah debu. Segala yang berasal dariku yang tidak membuat-Mu ridla, Engkau maafkan. Dan Engkau menghapus debu pembangkangan dari diriku, karena aku sendiri telah menghapus debu anggapan bahwa aku telah mematuhi-Mu.


Penuh Teka-teki
Abu Yazid juga mempunyai pandangan tersendiri tentang sufi. Katanya, “Sufi adalah seorang yang tangan kanannya memegang kitabullah, tangan kirinya memegang Sunah Rasul, salah satu matanya memandang ke Surga, mata yang lain melihat ke neraka. Ia mengenakan sarung dunia dan mantel akhirat sambil berseru, Labbaik ya Allah – Aku datang memenuhi panggilan-Mu.

Belakangan para ahli sangat terkesan terhadap penampilan Abu Yazid, sementara keperibadian dan ucapan-ucapannya penuh dengan teka-teki. Peneliti sufi asal Ingris, AJ.Arberry, menjulukinya sebagai First of the intoxicated sufis atau sufi pertama yang mabuk kepayang. Sedangkan Helmut Ritter, R.C. Zaehner dan RA. Nicolson menyatakan, Abu Yazid adalah orang yang paling paham tentang Fana. Bahkan sufi dan penyair besar Jalaluddin Rumi juga sangat mengaguminya.

Dalam puisi Matsnawi (kimpulan puisi) nya, Rumi menulis betapa suatu kali Abu Yazid diprotes oleh murid-muridnya, dengan mengatakan bahwa Abu Yazid Kafir. Mereka sempat menghunus pedang. Tetapi pedang itu malah berbalik menusuk para murid itu sendiri. Sementara filsuf dan pujangga Pakistan, Muhammad Iqbal, ketika menulis buku puisi Javid Nama, sangat terinspirasi oleh puisi Abu Yazid.

Peneliti sufi yang lain, Anemmare Schimmel, menulis, “Sebagai seorang sufi, ia menonjol sendirian di kancah pemikiran tasawuf Iran masa awal. Pemikirannya yang paradoksal menawarkan makna baru, namun tidak bisa sepenuhnya dipahami kecuali bila pembaca mampu berbagi dalam pengalaman mistik. Atau sebaliknya, pembaca malah berbalik menuduh sebaliknya, pembaca malah berbalik menuduh bahwa paham Abu Yazid tipuan belaka..”
Apa pun pengalaman mistikus Ba Yazid (panggilan akrab Abu Yazid), bahwa kepribadiannya telah mengilhami para sastrawan sufi di zama sesudahnya. Bahkan namanya sempat pula dipuja dalam berbagai puisi. Prestasi ini hanya bisa ditandingi oleh sufi bear lainnya seperti Al-Hallaj, yang kemiripan ajarannya sering dikaitkan dengan Ba Yazid. Cuma sayang, ia tidak meninggalkan karya tulis. Ajaran dan pandangannya hanya dapat dibaca pada catatan murid-muridnya, atau para sufi yang pernah berjumpa dengannya.

Begitu besar pengaruh pribadi dan ajaran Ba Yazid, sehingga sampai kini pun ia masih di puja orang. dan makamnya selalu ramai diziarahi. Abu Yazid al-Bisthami wafat pada tahun 875 M bertepatan dengan 261 H, dan dimakamkan di kampung halamannya, Bistham.

Tentang Manusia Sejati
Banyak hal yang dapat kita pelajari dari Ba Yazid. Kisah-kisah yang unik banyak ditulis oleh para ulama klasik. Misalnya dalam kitab Tsabaqatush Shufiyah karya As-Sulami, Hilyatul Awliya, karya Abu Nu’aim, Kasyful Mahjub, karya Al-Hujwiri, Kitabul al-Luma, karya As-Sarraj atau Tadzkirul Awliya, karya Fariduddin Aththar.

Berikut beberapa cerita tentang Abu Yazid, suatu hari Dzun Nun al-Misri mengirimkan selembar sajadah kepada Abu Yazid, tetapi Abu Yazid mengembalikannya, sambil berpesan, “Apa perlunya selembar sejadah? Kirimkan saja sebuah bantal untuk bersandar.” Maksudnya, ingin mengatakan sudah berhasil mencapai tujuan. Maka, Dzun Nun pun mengirimkan sebuah bantal. Tetapi bantal itu pun dikembalikan, karena ia telah bertobat dan tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang. “Manusia yang berbantalkan karunia dan kasih Allah tidak membutuhkan bantal dari salah seorang diantara hambanya,” kata Ba Yazid.

Suatu hari Abu Yazid berjalan-jalan disebuah pekuburan, suatu malam ketika pulang dari makam, ia berpapasan dengan seorang pemuda yang memainkan kecapi. “Semoga Allah melindungi kita!” kata Abu Yazid. Mendengar itu si pemuda memukulkan kecapi kekepala Abu Yazid dengan keras. Ternyata pemuda itu tengah mabuk. Dengan bercucuran darah Abu Yazid pulang.

Ketika hari telah siang, dipanggilnya salah seorang muridnya, “Berapakah harga sebuah Kecapi?” tanyanya. Si murid memberitahukan harganya, dengan secarik kain dibungkusnya sejumlah uang ditambah beberapa kue lalu dikirimkannya kepada si pemuda. “Sampaikanlah kepadanya, Abu Yazid minta maaf. Katakan pula, tadi malam ia menyerang Abu Yazid dengan Kecapinya sehingga kecapi itu pecah. Sebagai gantinya terimalah uang  ini dan belilah kecapi baru. Sedangkan kue-kue yang manis untuk penawar duka hatimu karena kecapimu pecah.” Ketika si pemuda itu menyadari perbuatannya, bersama pemuda-pemuda lain ia menemui Abu Yazid untuk minta maaf. Hanya kepada Allah
    Suatu saat, Abu Yazid bercerita, Ketika aku sedang duduk, datanglah sebuah lamunan, bahwa aku adalah Syekh dan tokoh suci zaman ini. Tapi begitu hal itu terdengar dalam benak, aku segera sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar.lalu aku bangkit dan berangkat ke Khurasan, di sebuah persinggahan aku berhenti dan bersumpah tidak akan meninggalkan tempat sebelum

Allah mengutus seseorang untuk membukakan diriku. Tiga hari tiga malam aku tinggal di sana. Pada hari keempat aku lihat seseorang yang bermata satu yang menunggang seekor unta datang kepadaku. Aku lihat kebesaran Ilahi di dalam dirinya. Aku mengisyaratkan agar Unta berhenti, unta itu pun menekuk kakinya di depanku, dan lelaki bermata satu itu memandangku.

“Sejauh ini kau memanggilku hanya untuk membukakan mata yang tertutup dan membukakan pintu yang terkunci, serta untuk menenggelamkan penduduk Bustham bersama Abu Yazid?” katanya kepadaku.

Aku jatuh lunglai, kemudian bertanya kepada orang itu, “Darimanakah engkau?”

“Sejak engkau bersumpah itu, telah beribu-ribu mil jarak aku tempuh. Berhati-hatilah,

Abu Yazid, jagalah hatimu!” ia lalu berpaling dariku dan meninggalkan tempat itu.
Suatu malam Abu Yazid merasa shalatnya tidak khusuk. Maka katanya, “Carilah kalau-kalau ada barang-barang berhaga di rumah ini,” murid-muridnya pun mencari-cari di seantero rumah, lalu menemukan setengah tandan anggur, “Bawalah anggur itu, dan berikanlah kepada orang lain, rumahku bukan toko buah-buahan,” kata Abu Yazid. Setelah itu barulah ia dapat melakukan salat dengan khusuk.

Pada suatu hari beberapa orang bertanya kepada Abu Yazid, “Engkau dapat berjalan di atas air?” Abu Yazid pun menjawab, Sepotong kayu juga dapat melakukannya.”

Mereka bertanya lagi, “Engkau dapat pergi ke Mekkah dalam semalam?” maka jawab Abu Yazid,setiap orang sakit dapat melakukan perjalanan dari India ke Demavand dalam satu malam.”

Merasa penasaran, mereka bertanya lagi, “Jika demikian, apakah yang dilakukan oleh manusia sejati?” Abu Yazid menjawab. “Manusia sejati tidak akan menautkan hatinya kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah.”

Recent post

Recent Posts Widget